JAKARTA — Industri manufaktur katup (valve) dalam negeri tengah menghadapi paradoks. Di satu sisi, kemampuan produksi dan kualitas pabrikan lokal telah memenuhi standar internasional. Namun di sisi lain, sebagian besar kapasitas produksi justru belum terserap pasar.
Himpunan Industri Katup Indonesia (HAKINDO) mengungkapkan, sekitar 75 persen kapasitas produksi katup lokal kelas API-grade saat ini masih menganggur (idle). Kondisi tersebut terjadi di tengah kebutuhan industri migas dan proyek infrastruktur energi nasional yang terus berkembang.
Fakta itu disampaikan perwakilan HAKINDO, Patrick Tanato, dalam seminar INTI pada ajang Indo Machinery 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Menurut Patrick, sembilan pabrikan anggota HAKINDO memiliki total kapasitas produksi terpasang mencapai 29.272 ton per tahun. Mayoritas pabrikan tersebut telah mengantongi sertifikasi internasional dari American Petroleum Institute (API), termasuk lisensi manajemen mutu API Q1.
Namun, berdasarkan survei HAKINDO pada Juni 2026, tingkat utilisasi kapasitas produksi baru mencapai sekitar 25 persen.
“Kualitas anggota kami sudah qualified dan comply. Namun, berdasarkan survei Juni 2026, tingkat utilisasi pabrik kami baru 25 persen. Artinya ada 75 persen kapasitas menganggur setiap tahunnya. Ini bukan karena kita tidak bisa bersaing, tapi karena pasarnya tidak berjalan seadil yang diharapkan,” tegas Patrick.
TKDN Tinggi, tetapi Pesanan Masih Minim
HAKINDO menilai kondisi tersebut menjadi ironi bagi agenda penguatan industri nasional. Pasalnya, industri katup dalam negeri memiliki potensi TKDN yang sangat besar.
Jika seluruh rantai pasok domestik dapat dimaksimalkan, potensi TKDN industri katup nasional diperkirakan mencapai 72,22 persen.
Namun, tingginya kandungan lokal tersebut belum otomatis membuat produk dalam negeri menjadi pilihan utama dalam proyek-proyek strategis.
Salah satu persoalan yang disoroti HAKINDO adalah praktik penyusunan spesifikasi teknis dalam dokumen tender, khususnya pada proyek hulu migas dan pengadaan di lingkungan BUMN.
Menurut Patrick, masih ditemukan spesifikasi yang mencantumkan fitur proprietary atau mengarah pada merek dan produk tertentu dari produsen luar negeri.
Kondisi tersebut dinilai membuat produsen lokal berpotensi tersingkir bahkan sebelum memasuki tahap kompetisi harga dan kualitas.
“Akibatnya, manufaktur lokal terdiskualifikasi bahkan sebelum tender dimulai. Kami tidak meminta proteksi berlebihan atau mandat mendadak, kami hanya meminta level playing field dan netralitas spesifikasi dalam tender,” ujarnya.
Karena itu, HAKINDO mendorong adanya standar spesifikasi tender yang lebih netral, objektif dan berbasis pada kinerja produk, bukan pada merek atau fitur yang secara tidak langsung mengunci pilihan kepada produk tertentu.
Verifikasi TKDN Jangan Sekadar Administratif
Selain persoalan tender, HAKINDO juga mendorong pembenahan mekanisme verifikasi TKDN.
Organisasi tersebut mengusulkan agar verifikasi tidak berhenti pada klaim administratif atau self-declaration, tetapi diperkuat melalui pemeriksaan langsung terhadap proses produksi di fasilitas manufaktur.
Pendekatan witness audit dinilai penting untuk memastikan besaran TKDN benar-benar mencerminkan proses produksi dan kontribusi industri dalam negeri.
Dengan demikian, produk yang memiliki kandungan lokal tinggi dapat memperoleh pengakuan dan kesempatan pasar yang lebih proporsional.
Siap Produksi Katup Bernilai Tinggi
HAKINDO menegaskan industri katup nasional tidak ingin hanya bergantung pada produk konvensional. Saat ini, sejumlah anggota telah memiliki kemampuan memproduksi berbagai jenis katup manual, seperti Gate, Globe, Ball, Check, dan Needle Valve.
Ke depan, industri nasional siap memperluas kemampuan menuju produk bernilai tambah lebih tinggi, termasuk Control Valve dan Actuator.
Untuk mempercepat proses tersebut, HAKINDO membuka peluang kerja sama strategis dengan prinsipal global melalui skema kemitraan, lisensi teknologi maupun joint venture.
Langkah ini dinilai penting agar transfer teknologi, peningkatan kompetensi sumber daya manusia dan penguatan rantai pasok nasional dapat berlangsung secara lebih cepat.
Tiga Tahap Roadmap Industri Katup Nasional
Untuk memperkuat ekosistem industri katup, HAKINDO mengusulkan tiga tahapan roadmap pendalaman industri nasional.
Pertama, memaksimalkan kemampuan casting atau pengecoran baja dalam negeri yang telah tersedia untuk sejumlah grade, khususnya carbon steel.
Kedua, menciptakan jaminan penyerapan atau offtake dari sektor migas dan BUMN. Menurut HAKINDO, kepastian pasar akan membantu industri mencapai skala ekonomi sekaligus menurunkan biaya produksi casting lokal.
Ketiga, melakukan evaluasi terhadap instrumen perdagangan secara adil guna mengantisipasi potensi praktik perdagangan tidak sehat, termasuk indikasi dumping dari negara-negara lain.
Menurut Patrick, penguatan industri katup memiliki arti strategis karena kebutuhan peralatan penunjang migas akan terus mengikuti perkembangan investasi sektor energi.
“Investasi di sektor hulu migas sangat besar. Kami di HAKINDO siap menjadi mitra strategis pemerintah, KKKS, dan mitra global untuk menaikkan kelas produk katup buatan Indonesia,” pungkasnya.
HAKINDO berharap momentum investasi sektor energi dapat sekaligus menjadi momentum kebangkitan manufaktur nasional. Dengan kualitas yang telah memenuhi standar internasional, kapasitas produksi yang besar, serta potensi TKDN yang tinggi, industri katup dalam negeri dinilai memiliki modal kuat untuk menjadi bagian penting dari rantai pasok industri migas nasional.
Yang dibutuhkan, kata HAKINDO, bukan sekadar proteksi, melainkan pasar yang terbuka, spesifikasi tender yang netral, kepastian penyerapan dan kebijakan industri yang konsisten.














