Ahmad Ridha Sabana: Indonesia Jangan Hanya Jadi Pasar, UMKM Harus Masuk Global Supply Chain

Avatar photo
banner 120x600

Suara Pembaharuan.net||JAKARTA – Utusan Khusus Presiden Bidang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Ekonomi Kreatif dan Digital di Kabinet Merah Putih, Ahmad Ridha Sabana, menegaskan pentingnya memperkuat konektivitas perdagangan, inovasi, dan kemitraan strategis antara Indonesia dan China. Hal tersebut disampaikannya dalam kata sambutan pembukaan 2026 China (Indonesia) International E-Commerce Industry Expo (CIEIE) di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta, Kamis (03/09/26).

Pameran CIEIE 2026 berlangsung selama tiga hari, 3–5 September 2026. Ajang tersebut mempertemukan pelaku usaha, institusi, dan mitra bisnis dari Indonesia dan China dalam rangka memperkuat kerja sama di bidang perdagangan digital, e-commerce, manufaktur, serta pengembangan pasar lintas negara.

Dalam sambutannya, Ahmad Ridha mengatakan CIEIE 2026 bukan sekadar ajang pameran, tetapi dapat menjadi jembatan yang mempertemukan dua kekuatan ekonomi dinamis di Asia. Menurutnya, hubungan perdagangan yang kuat tidak hanya dibangun melalui transaksi, tetapi juga melalui konektivitas, inovasi bersama, dan kesejahteraan yang dapat dirasakan kedua pihak.

Ia menilai Indonesia saat ini berada pada momentum penting dalam membangun ekonomi digital yang mandiri dan tangguh. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia, kata dia, terus membuka ruang kemitraan yang terbuka dan saling menguntungkan dengan negara-negara lain.

Ahmad Ridha menyebut Indonesia memiliki lebih dari 66 juta UMKM yang memberikan kontribusi lebih dari 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) serta menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja nasional. Sementara itu, ekonomi digital Indonesia telah berkembang pesat dengan nilai transaksi yang disebutnya mendekati 100 miliar dolar AS.

Selain UMKM dan ekonomi digital, Ahmad Ridha juga menyoroti potensi ekonomi kreatif Indonesia yang mencakup fashion, film, desain, hingga konten digital. Sektor tersebut dinilai memiliki kontribusi penting terhadap perekonomian nasional sekaligus menjadi kekuatan yang dapat dikembangkan untuk menembus pasar internasional.

“Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Di baliknya terdapat jutaan pengusaha dan pelaku kreatif yang siap membawa karya dan usahanya ke tingkat dunia,” katanya.

Menurut Ahmad Ridha, kemitraan Indonesia dengan China menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut. Hubungan perdagangan kedua negara yang terus berkembang dinilai memberikan ruang bagi platform seperti CIEIE untuk memperluas kerja sama ekonomi, khususnya dalam membangun ekosistem perdagangan digital dan lintas batas.

Namun, ia menekankan bahwa kemitraan Indonesia-China tidak cukup hanya dibangun melalui dialog antarpemerintah atau hubungan perdagangan satu arah. Kerja sama tersebut harus mampu memberikan manfaat bagi kedua pihak serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif.

“Indonesia tidak ingin hanya menjadi pasar dan konsumen teknologi. Indonesia ingin menjadi partner dalam menciptakan, mengembangkan, dan berinovasi bersama, sekaligus menjadi bagian yang setara dalam membangun infrastruktur perdagangan digital Asia,” tegasnya.

Melalui konsep smart trade yang diusung CIEIE 2026, Ahmad Ridha melihat peluang besar untuk membuka akses Indonesia terhadap global supply chain, perdagangan lintas batas, e-commerce, serta ekosistem manufaktur yang lebih maju. Indonesia juga dinilai berpotensi menjadi pintu masuk bagi perusahaan China menuju pasar Indonesia dan kawasan Asia yang lebih luas.

Ia menggambarkan konsep tersebut sebagai Silk Road Modern, yakni bukan jalan perdagangan satu arah, melainkan jaringan pertukaran yang memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. Menurutnya, kerja sama ekonomi Indonesia-China harus dibangun dengan semangat saling menguntungkan dan menciptakan peluang baru bagi dunia usaha.

Di sisi lain, Ahmad Ridha menilai ekonomi kreatif Indonesia memiliki keunikan yang tidak mudah ditemukan di tempat lain, mulai dari produk kain berkualitas tinggi, perhiasan, kopi khas Indonesia, hingga berbagai karya dan konten digital. E-commerce, menurutnya, dapat menjadi jembatan untuk membawa kreativitas tersebut menjangkau konsumen China dan pasar global yang lebih luas.

Ia juga mengingatkan pentingnya membangun ekonomi digital secara inklusif sejak awal. Digitalisasi tidak hanya berkaitan dengan efisiensi dan skala usaha, tetapi juga harus memastikan pelaku usaha terkecil, termasuk yang berada di berbagai daerah, memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang.

Kepada para mitra dari China dan negara lainnya, Ahmad Ridha mengajak agar Indonesia tidak hanya dipandang sebagai pasar, tetapi juga sebagai mitra strategis. Sementara kepada pelaku UMKM Indonesia, ia mendorong agar momentum CIEIE 2026 dimanfaatkan untuk membangun konektivitas, memperluas kemitraan, dan membawa produk lokal menuju pasar internasional.

“UMKM Indonesia siap menjadi bagian dari global supply chain, berinovasi dan tumbuh bersama,” pungkas Ahmad Ridha.

Dengan semangat tersebut, CIEIE 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai ajang pameran dan pertemuan bisnis, tetapi menjadi ruang untuk memperkuat konektivitas Indonesia-China, memperluas akses pasar, serta mendorong UMKM dan ekonomi kreatif Indonesia naik kelas dalam ekosistem perdagangan digital global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *