Jakarta, 24 Juni 2026, Suara Pembaharuan.net– PT Primarindo Asia Infrastructure Tbk (BEI: BIMA) menyelenggarakan Public Expose Tahunan pada Rabu (24/6) di Gren Alia Hotel Cikini, Jakarta. Dalam kesempatan tersebut, manajemen memaparkan perkembangan kinerja Perseroan sepanjang tahun 2025 hingga Triwulan I 2026, sekaligus strategi yang dijalankan untuk memperkuat keberlanjutan usaha di tengah tantangan industri alas kaki nasional.
Pada Triwulan I 2026, Perseroan berhasil mencatatkan perbaikan kinerja dengan membukukan rugi komprehensif sebesar Rp5,96 miliar, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp7,54 miliar. Perbaikan tersebut terutama didorong oleh menurunnya beban selisih kurs yang tercatat sebesar Rp1,8 miliar, dibandingkan Rp3,68 miliar pada Triwulan I 2025.
Dari sisi operasional, kerugian usaha juga mengalami penurunan menjadi Rp4,53 miliar pada Triwulan I 2026 dari Rp5,42 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan kerugian usaha ini merupakan hasil dari berbagai langkah efisiensi, khususnya pada beban penjualan.
Sepanjang tahun 2025, Perseroan mencatatkan penjualan sebesar Rp108,2 miliar atau meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp92,5 miliar. Namun demikian, tekanan terhadap daya beli masyarakat, meningkatnya biaya produksi, serta persaingan usaha yang semakin ketat masih memengaruhi profitabilitas Perseroan, sehingga rugi usaha tercatat sebesar Rp12,42 miliar.
Dalam upaya menjaga efisiensi operasional dan pengelolaan modal kerja, volume produksi pada 2025 tercatat sebanyak 459 ribu pasang sepatu, dibandingkan 541 ribu pasang pada tahun sebelumnya. Penyesuaian produksi dilakukan sejalan dengan strategi optimalisasi persediaan dan keterbatasan modal kerja yang dihadapi Perseroan.
Salah satu perkembangan positif pada tahun 2026 adalah dimulainya kembali aktivitas penjualan ekspor secara bertahap. Setelah tidak melakukan ekspor sepanjang 2025, Perseroan kini mulai mengirimkan produk ke pasar Argentina sebagai langkah awal perluasan pasar internasional.
Meski demikian, kondisi bisnis yang menantang masih berdampak pada penjualan kuartal pertama 2026. Perseroan membukukan penjualan sebesar Rp14,34 miliar, dibandingkan Rp17,11 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan tersebut terjadi baik pada kanal penjualan online maupun offline.
Terkait status saham Perseroan, manajemen menjelaskan bahwa sejak 19 November 2025 saham BIMA masih berada dalam status suspensi oleh Bursa Efek Indonesia sehubungan dengan status default atas pinjaman Perseroan kepada PT Perusahaan Pengelola Aset (PT PPA). Hingga saat ini, Perseroan masih berupaya menyelesaikan kewajiban tersebut, dengan salah satu alternatif sumber pendanaan berasal dari rencana penjualan aset Perseroan.
Untuk menjaga kesinambungan usaha dan memperkuat kinerja di masa mendatang, Perseroan terus menjalankan berbagai langkah strategis, antara lain mengupayakan penjualan sebagian aset tetap, mengoptimalkan pengelolaan persediaan, menyesuaikan tingkat produksi dengan proyeksi permintaan pasar, melakukan evaluasi harga produk, meningkatkan promosi melalui berbagai platform digital dan media sosial, memperluas penjualan melalui live commerce, serta menerima pesanan khusus dari sejumlah instansi pemerintah.
Manajemen optimistis bahwa berbagai langkah efisiensi dan pengembangan pasar yang tengah dijalankan akan memberikan dampak positif terhadap kinerja Perseroan ke depan.
PT Primarindo Asia Infrastructure Tbk merupakan perusahaan publik yang bergerak di bidang produksi alas kaki, khususnya sepatu olahraga. Perseroan dikenal sebagai produsen merek sepatu lokal Tomkins dan tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham BIMA.












