Berita  

CEO Artaprima: Indo Machinery 2026 Jadi Ruang Strategis Perkuat Kolaborasi dan Produk Industri Nasional

Avatar photo
banner 120x600

JAKARTA — CEO PT Artaprima Sarana Sukses, Diah Ayu Permatasari, menghadiri Indo Machinery Investment & Trade Show 2026: The Indonesia’s Platform for Machinery and Manufacturing Innovation yang digelar bersamaan dengan rangkaian Indonesia Technology and Innovation (INTI) 2026 di JI-Expo Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (11/8/2026).

Kehadiran Diah Ayu dalam pameran yang mempertemukan pelaku industri mesin, manufaktur, teknologi, dan berbagai sektor pendukung tersebut menjadi momentum penting untuk memperluas jejaring usaha sekaligus membuka peluang kolaborasi dengan pelaku industri nasional.

PT Artaprima Sarana Sukses merupakan perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang industri manufaktur, perdagangan, distributor resmi mesin, serta pengadaan berbagai peralatan penunjang kebutuhan industri. Perusahaan yang telah menjalankan aktivitas usahanya sekitar 7–8 tahun itu antara lain berkecimpung pada penyediaan mesin CNC, tools, peralatan industri, serta kebutuhan dan spesifikasi pendukung sektor otomotif.

Diah Ayu mengaku kehadirannya di Indo Machinery 2026 merupakan pengalaman pertama mengikuti kegiatan tersebut. Ia menilai pameran ini memberikan banyak manfaat, terutama karena mempertemukan perusahaan, pelaku usaha, serta jaringan asosiasi yang dapat menjadi pintu masuk bagi terbentuknya kerja sama baru.

“Ini baru pertama kali kami datang ke sini dan mengikuti acara ini. Ternyata sangat menarik karena kita bisa bertemu banyak perusahaan, teman-teman asosiasi, dan pelaku industri lainnya,” ujar Diah Ayu.

Menurutnya, bagi perusahaan yang tengah mengembangkan bisnis di sektor mesin dan peralatan industri, membangun jaringan merupakan salah satu kebutuhan penting. Selain untuk mendapatkan informasi mengenai perkembangan teknologi, jaringan industri juga dapat menjadi ruang berbagi pengalaman dalam menghadapi berbagai tantangan bisnis.

“Yang paling penting adalah jaringan. Kita bisa banyak sharing karena saya yakin kendala-kendala di industri juga tidak sedikit. Selain melihat teknologi dan peluang yang bisa dikerjasamakan, sebagai sesama pengusaha tentu kita bisa membangun kolaborasi,” katanya.

Diah Ayu juga memberikan perhatian terhadap keberadaan produk-produk lokal dan nasional yang ditampilkan dalam pameran tersebut. Menurutnya, kehadiran produk dalam negeri harus terus diperkuat agar industri nasional memiliki daya saing dan mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik.

“Teman-teman di asosiasi banyak membawa dan mementingkan produk lokal serta nasional. Menurut saya ini sangat menarik. Kami juga perlu banyak belajar dari para pelaku industri yang sudah puluhan tahun berkecimpung di bidang ini,” ujarnya.

Ia menilai salah satu tantangan industri nasional saat ini adalah derasnya produk impor yang masuk ke pasar Indonesia. Karena itu, penguatan industri dalam negeri membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, pelaku usaha, asosiasi, hingga pengembangan teknologi dan sumber daya manusia.

Diah Ayu menyebut setidaknya terdapat sejumlah aspek yang perlu menjadi perhatian bersama, yakni keberpihakan terhadap pengusaha dalam negeri, penguatan teknologi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Kalau dari saya, pertama tentu kuota atau keberpihakan yang lebih besar kepada pengusaha dalam negeri. Kedua adalah teknologi, karena ada teknologi tertentu yang mungkin belum bisa kita jangkau. Ketiga tentu SDM,” tuturnya.

Di sisi lain, Diah Ayu menilai pemerintah telah menerbitkan berbagai regulasi yang cukup membantu dunia usaha. Ia juga mengapresiasi keterbukaan para pemangku kepentingan di sektor industri dalam menerima masukan dari pelaku usaha.

Namun demikian, ia mengakui bahwa kesibukan menjalankan operasional perusahaan terkadang membuat pengusaha kurang memiliki kesempatan untuk mengikuti perkembangan berbagai asosiasi dan forum industri.

“Pengusaha biasanya sibuk dengan operasional. Jadi untuk mengikuti kegiatan seperti ini kadang tidak terpikirkan. Setelah datang ke sini, saya justru melihat banyak sekali asosiasi dan jaringan yang bisa membantu ketika ada kendala di lapangan,” katanya.

Karena itu, Diah Ayu menilai keterlibatan dalam asosiasi menjadi langkah strategis bagi pelaku usaha, khususnya perusahaan yang sedang bertumbuh. Melalui asosiasi, pelaku usaha dapat memperoleh informasi, memperluas relasi, berbagi pengalaman, sekaligus mencari solusi bersama terhadap persoalan yang dihadapi industri.

“Kalau pengusaha bingung harus ke mana ketika menghadapi kendala, melalui asosiasi mungkin akan lebih mudah karena ada teman-teman yang bisa membantu. Bagi saya, ini pengalaman baru dan sangat menarik,” ujarnya.

Ke depan, PT Artaprima Sarana Sukses melihat peluang pengembangan usaha tetap terbuka seiring meningkatnya kebutuhan terhadap mesin, tools, teknologi manufaktur, serta peralatan industri di Indonesia.

Diah Ayu berharap forum seperti Indo Machinery Investment & Trade Show dapat terus menjadi ruang pertemuan antara produsen, distributor, pengguna mesin, pelaku manufaktur, asosiasi, dan pemangku kepentingan pemerintah untuk memperkuat ekosistem industri nasional.

“Kita harus banyak belajar, membangun jaringan, dan membuka peluang kolaborasi. Kalau industri dalam negeri ingin semakin kuat, kita tidak bisa berjalan sendiri-sendiri,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *