FORKKABI Sambut Pengukuhan Fauzi Bowo, Budaya Betawi Didorong Jadi Identitas Inti Jakarta

Avatar photo
banner 120x600

JAKARTA – Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Forum Komunikasi Kaum Betawi Indonesia (FORKKABI), H. Mohammad Ihsan, S.H., M.H., menghadiri pelantikan dan pengukuhan Dewan Adat serta Lembaga Adat dan Kebudayaan Betawi (LAKB) di Balai Agung, Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (28/08/2026).

 

Dalam momentum tersebut, DR. Ing. H. Fauzi Bowo dikukuhkan sebagai Datuk Mualimin Ahlul Adat sekaligus Ketua Dewan Adat Lembaga Adat dan Kebudayaan Betawi (LAKB).

Prosesi pelantikan dan pengukuhan berlangsung khidmat dan turut dihadiri Gubernur DKI Jakarta, Dr. Ir. Pramono Anung Wibowo, M.M. Kehadiran sejumlah tokoh Betawi dan unsur pemerintah daerah menandai langkah penting dalam penguatan kelembagaan adat dan kebudayaan Betawi di Jakarta.

Ditemui usai acara, Ketua Umum DPP FORKKABI H. Mohammad Ihsan mengatakan, terbentuknya Lembaga Adat dan Kebudayaan Betawi merupakan bagian dari upaya masyarakat Betawi untuk mempersiapkan diri dalam memperkuat posisi adat dan kebudayaan di tengah perkembangan Jakarta.

Menurut Ihsan, ketika negara telah memberikan ruang melalui regulasi dan peraturan perundang-undangan, masyarakat Betawi juga harus mampu mengambil peran dengan membangun kelembagaan yang kuat, terarah dan memiliki visi jangka panjang.

“Hari ini kami dilantik dan dikukuhkan oleh Gubernur dengan nama Lembaga Adat dan Kebudayaan Betawi. Mudah-mudahan ini menjadi sebuah ikhtiar bersama antara kami kaum Betawi yang dipimpin Bang Foke dan pemerintah daerah,” ujar Ihsan.

Ia juga mengapresiasi perhatian Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung terhadap keberadaan masyarakat dan kebudayaan Betawi. Menurutnya, kepedulian pemerintah daerah menjadi modal penting dalam mendorong pemajuan kebudayaan Betawi secara lebih terstruktur.

“Pak Pramono punya concern yang luar biasa terhadap Betawi. Karena itu, setelah pelantikan ini tentu pekerjaan kita masih panjang,” katanya.

Ihsan menjelaskan, langkah awal yang akan dilakukan LAKB adalah melakukan konsolidasi internal, sekaligus membagi tugas dan peran sesuai dengan bidang dan kompetensi masing-masing. Konsolidasi tersebut dinilai penting untuk membangun program kerja yang komprehensif bagi pemajuan adat dan kebudayaan Betawi.

Menurutnya, cakupan budaya Betawi sangat luas, mulai dari pendidikan dan muatan lokal, kuliner, kesenian, tari, tradisi hingga berbagai aspek kebudayaan lainnya yang perlu terus dikembangkan dan diperkenalkan kepada masyarakat.

“Kita akan berkonsolidasi dulu, membagi tugas dan peran masing-masing. Yang secara budaya itu banyak, ada muatan lokal, kuliner, budaya, tari dan segala macam. Ini masih panjang,” jelasnya.

Lebih jauh, Ihsan mengatakan bahwa perjalanan Jakarta menuju usia 500 tahun harus menjadi momentum penting bagi masyarakat Betawi untuk menunjukkan kontribusinya secara lebih luas kepada publik. Ia berharap, pada momentum tersebut, masyarakat Betawi dapat menghadirkan konsep dan program yang lebih komprehensif.

“Menjelang 500 tahun Jakarta, kita mungkin sudah bisa menyuguhkan hal-hal yang sifatnya lebih komprehensif kepada publik Jakarta, publik Indonesia, bahkan publik dunia,” ujarnya.

Menurut Ihsan, suku Betawi sebagai masyarakat inti Jakarta memiliki kekayaan adat dan kebudayaan yang harus terus diperkuat melalui kelembagaan yang mendapatkan pengakuan dan dapat menjadi mitra strategis pemerintah daerah.

Ia menegaskan bahwa keberadaan Lembaga Adat dan Kebudayaan Betawi bukan semata-mata berbicara mengenai ornamen atau simbol-simbol fisik Betawi yang selama ini telah diatur melalui berbagai regulasi daerah.

“Kalau ornamen Betawi itu sebenarnya sudah ada. Perda dan pergubnya juga sudah ada. Kita sekarang lebih kepada kelembagaan adat dan pemajuan budaya,” katanya.

Ihsan menambahkan, penguatan kelembagaan adat menjadi bagian penting dalam membangun hubungan kemitraan strategis antara masyarakat Betawi dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Dengan demikian, adat dan kebudayaan Betawi diharapkan tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi menjadi bagian dari pembangunan Jakarta secara menyeluruh.

Harapan besar FORKKABI dan masyarakat Betawi, lanjut Ihsan, adalah menjadikan budaya Betawi sebagai budaya inti dan dasar identitas Jakarta. Menurutnya, nilai-nilai dan karakter kebudayaan Betawi perlu hadir dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat dan arah pembangunan ibu kota.

“Harapan kita pasti budaya Betawi menjadi budaya inti Jakarta. Setiap hal yang menyangkut Jakarta, budaya Betawi menjadi basic dalam segala hal,” pungkas H. Mohammad Ihsan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *