Guyub Rukun Migunani, Kagamahut Siap Hadapi Tantangan Iklim dan Jaga Keanekaragaman Hayati

Avatar photo
banner 120x600

Jakarta, Jumat (27/02/26) — Pengurus Pusat Keluarga Alumni Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada Fakultas Kehutanan (Kagamahut) masa bakti 2025–2028 resmi dilantik dalam sebuah seremoni khidmat di Gedung Manggala Wanabakti, Kementerian Kehutanan, Jakarta.

Pelantikan mengusung tema “Guyub Rukun Migunani”, yang merefleksikan semangat kebersamaan dan kebermanfaatan alumni bagi bangsa dan negara.

 

Prosesi pelantikan dilakukan oleh Wakil Menteri Komunikasi dan Digital sekaligus Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Kagama, Nezar Patria.

Ketua Umum PP Kagamahut masa bakti 2025–2028, Dr. Dwi Januanto Nugroho, S.Hut., M.B.A., yang juga menjabat sebagai Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan (Dirjen Gakkum), menegaskan bahwa sektor kehutanan saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

“Kehutanan memiliki lingkaran kompetensi sekaligus lingkaran harga diri dalam upaya penyelamatan ekosistem sumber daya alam hutan kita. Tantangan perubahan iklim, perencanaan meteorologis, hingga ancaman terhadap keanekaragaman hayati menjadi perhatian utama kita,” ujarnya.

Ia menyinggung berbagai persoalan aktual, termasuk kematian satwa liar yang beruntun dan tekanan terhadap habitat alami. Menurutnya, upaya pelestarian hutan tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi multipihak—pemerintah, pelaku usaha, NGO, akademisi, hingga jurnalis.

“Edukasi publik menjadi kunci. Kita perlu menggandeng generasi milenial melalui forum edukasi dan kampanye yang relevan dengan zamannya. Bahasa kita harus menyesuaikan, tidak berbelit-belit, agar pesan cinta hutan sampai,” tegasnya.

Dwi juga menekankan pentingnya menjaga fungsi hutan sesuai peruntukannya—baik hutan produksi, hutan lindung, maupun hutan konservasi—agar tetap memberikan manfaat ekonomi tanpa mengorbankan keberlanjutan lingkungan.

Alumni Bersatu untuk Bangsa

Dalam sambutannya, Nezar Patria menekankan pentingnya soliditas alumni dalam menghadapi tantangan nasional, regional, dan global.

“Hari ini kita memperkuat janji alumni untuk bersatu bagi bangsa dan negara. Kehutanan memiliki posisi strategis dalam pembangunan nasional, terutama di tengah isu lingkungan dan perubahan iklim yang semakin mengemuka,” ungkapnya.

Ia mengenang kedekatannya dengan para alumni Fakultas Kehutanan UGM yang dikenal memiliki kepedulian tinggi terhadap isu lingkungan sekaligus wawasan sosial-politik yang luas. Menurutnya, karakter tersebut menjadi modal penting bagi Kagamahut untuk berkontribusi secara konkret.

Nezar juga mendorong agar Kagamahut menjadi forum pemikiran yang produktif, menghadirkan gagasan yang aplikatif bagi pemerintah dan pemangku kepentingan di sektor kehutanan.

“Kita butuh inovasi dan kreativitas agar organisasi tetap eksis dan relevan. Kagamahut harus mampu menjadi pemberi solusi bagi masyarakat dan bangsa,” katanya.

Peran  Politik dan Silaturahmi

Anggota DPR RI Komisi IV sekaligus Dewan Penasehat Kagamahut, Darori Wonodipuro, turut memberikan pesan penting kepada para alumni.

Ia mendorong para rimbawan untuk tidak alergi terhadap politik, karena kebijakan kehutanan sangat ditentukan oleh proses legislasi dan keputusan politik.

“Kalau ingin perubahan besar, kita harus belajar politik. Tiga syarat untuk berhasil adalah berdoa dan berusaha, memperkuat silaturahmi, serta memberi manfaat bagi orang lain,” ujarnya.

Darori juga mengingatkan pentingnya kerja sama dan meninggalkan ego sektoral. Menurutnya, semangat “guyub rukun” harus benar-benar diwujudkan dalam kerja kolektif mendukung kebijakan kehutanan yang berkelanjutan.

Komitmen 2025–2028

Dengan pelantikan ini, PP Kagamahut masa bakti 2025–2028 berkomitmen memperkuat peran alumni dalam:

• Menjaga kelestarian hutan dan keanekaragaman hayati

• Mendorong kebijakan berbasis keberlanjutan

• Mengedukasi generasi muda untuk mencintai hutan

• Menghadirkan forum pemikiran strategis tahunan sektor kehutanan

• Memperkuat sinergi lintas sektor dan lintas generasi

Semangat “Rimba Hijau Penyangga Negeri” yang digaungkan dalam penutupan acara menjadi simbol tekad bersama para rimbawan untuk terus berkarya bagi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *