Jakarta, 10 Desember 2025 — Majelis GAZA menyelenggarakan seminar nasional bertajuk “Blueprint & Roadmap Indonesia dan Dunia 2026–2029 Berbasis Mubasyirat”. Acara ini menjadi forum penting dalam membahas arah masa depan Indonesia dan dunia melalui perpaduan pendekatan akademik, geostrategis, dan spiritual Islami. Menghadirkan Ketua Majelis GAZA, R. Diki Candra Purnama MM., sebagai pembicara utama di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Rabu (10/12/25).

Diki Candra Purnama menekankan bahwa penyusunan roadmap berbasis mubasyirat—mimpi benar yang diyakini sebagai ilham dari Allah bukan sekadar pendekatan spiritual, tetapi juga sebuah metode kontemplatif yang dipadukan dengan analisis akademik dan kondisi global terkini. Ia menegaskan bahwa masa depan tidak hanya disusun melalui kalkulasi rasional, tetapi juga melalui kecerdasan spiritual yang mampu menangkap arah zaman.
“Mubasyirat adalah salah satu cara Allah memberikan isyarat mengenai peristiwa besar yang akan datang. Ketika isyarat itu diolah dengan metodologi ilmiah dan konteks geopolitik masa kini, maka lahirlah peta jalan masa depan yang lebih komprehensif,” ujar Diki.
Seminar ini memberikan informasi berbasis ilmiah dan spiritual untuk membaca tanda-tanda Allah, menyusun strategi nyata, dan menjemput takdir, dengan format akademik yang bersumber dari Al-Qur’an dan Mubasyirat. Bertujuan merumuskan arah strategis untuk Indonesia 2026-2029, menggunakan wahyu spiritual (Mubasyirat) sebagai panduan, bukan hanya analisis konvensional.
Menurut Diki, perpaduan antara ilmu pengetahuan dan mubasyirat mampu menghadirkan perspektif masa depan yang lebih menyeluruh. Roadmap ini diharapkan menjadi bahan pertimbangan bagi para pemimpin, akademisi, dan masyarakat dalam melihat arah perjalanan bangsa.
“Indonesia memiliki modal spiritual dan budaya yang kuat. Jika dipadukan dengan kecakapan ilmiah, kita tidak hanya mampu menghadapi masa depan, tetapi juga memimpinnya,” tegasnya.
Lanjut Diki nanti kami akan mengeluarkan sebuah karya tulis yang akan disebar secara gratis pada semua pihak. Supaya Indonesia harus siap-siap dengan berbagai macam masalah yang terjadi termasuk bencana-bencana yang akan terjadi karena sudah ada di dalam banyak mimpi. Kemudian banyak sekali musibah – musibah yang akan terjadi. Dan itu persis dengan ramalan prediksi BMKG
Hanya BMKG kadang-kadang tidak terlalu berani menyampaikan sesuatu yang sifatnya prediksi yang sangat bombastis. Tapi dalam mimpi memang korban akan banyak sekali dan kami akan memberikan solusinya, pungkas Diki.
Selain itu Majelis Gaza menghadirkan narasumber salah satu pemikir strategis Indonesia, Prof. Dr. Nandan Limakrisna, S.T., M.M., mengatakan transformasi ekonomi berbasis produktivitas. Indonesia harus keluar dari jebakan middle-income dengan memperkuat inovasi, hilirisasi, dan digitalisasi sektor ekonomi, jelasnya..
Prof. Nandan melihat bahwa periode 2026–2029 akan menjadi momentum penting bagi Indonesia di tengah pergeseran kekuatan global. Indonesia berpotensi menjadi pusat stabilitas dan pusat konsolidasi peradaban jika mampu membaca tanda-tanda zaman dengan jeli dan bertindak cepat.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Persada Indonesia Y.A.I, menyoroti Indonesia ke depan tentunya harus mulai meningkatkan pertumbuhan ekonomi dari bawah, dari masyarakat atau dari rakyat. Pertumbuhan ekonomi yang dicita-citakan 6 persen tahun 2029 bisa tercapai sejalan dengan kesejahteraan rakyat. Dengan investasi betul-betul ke sektor real, ke sektor produk, tutupnya














