Jakarta — Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) resmi membuka Pasar HKTI 2026 yang dirangkai dengan Bazar UMKM, Bazar Pangan Murah, Pelepasan Bantuan HKTI Peduli ke Bandung Barat dan Pemalang, Launching Aplikasi dan Kartu Anggota HKTI, Penggalangan Dana HKTI Peduli melalui HKTI Musik, serta Talkshow HKTI, di halaman Kantor DPN HKTI Ragunan, Jakarta, Selasa (10/02/2026).
Wakil Ketua Umum DPN HKTI, Ir. Mulyono Machmur, MS, menegaskan bahwa pembukaan pasar ini merupakan langkah konkret HKTI dalam memberikan jaminan pasar bagi hasil produksi petani, sekaligus upaya nyata meningkatkan kesejahteraan petani nasional.
“Ini bukan sekadar bazar. Kita membuka pasar bagi petani, supaya apa yang mereka produksi benar-benar terserap dan punya kepastian harga,” ujar Mulyono.
Ia menyoroti momentum positif sektor pertanian nasional, seiring keberhasilan panen yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto di wilayah Lawang. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi harapan besar agar Indonesia semakin kuat dalam ketahanan pangan dan tidak lagi bergantung pada impor.
“Kalau produksi kita kuat dan pasarnya jelas, ke depan nggak perlu lagi impor. Padahal sumber daya alam kita lengkap,” tegasnya.
Lebih lanjut, Mulyono mengungkapkan bahwa Pasar HKTI tidak hanya akan digelar di Jakarta, namun direncanakan hadir di seluruh provinsi di Indonesia, sebagai sarana promosi produk petani dan UMKM, sekaligus mempertemukan produsen langsung dengan pasar.
“UMKM bisa hidup, promosi jalan, dan yang paling penting petani punya jaminan pasar. HKTI hadir memfasilitasi,” tambahnya.
Menjawab persoalan klasik pertanian, yakni panjangnya mata rantai distribusi dan permainan harga oleh tengkulak, Mulyono menekankan pentingnya penguatan kelembagaan petani melalui koperasi.
“Masalah utama kita itu mata rantainya panjang. Misal harga di Petani cuma dapat Rp15.000, tapi harga di pasar bisa mencapai Rp50.000. Solusinya koperasi yang kuat, memotong mata rantai, sehingga petani bisa langsung masuk pasar,” jelasnya.
HKTI, lanjut Mulyono, juga membuka ruang advokasi bagi petani yang mengalami persoalan distribusi, harga, maupun kelembagaan, dengan menjadikan kantor HKTI sebagai pusat pengaduan dan pendampingan.
“Ini salah satu solusi HKTI: membuka pasar, memperkuat koperasi, dan memberi advokasi. Kalau kelembagaan kuat, petani akan lebih berdaulat,” pungkasnya.
Sebagai informasi, Ir. Mulyono Machmur, MS juga dikenal sebagai Pimpinan Perusahaan Tabloid Sinar Tani, yang aktif mendorong inovasi bisnis dan digitalisasi pertanian, serta memperkuat peran media pertanian sebagai sumber informasi teknologi dan kebijakan nasional.














