JAKARTA — Penguatan keamanan siber dan kemandirian teknologi Indonesia dinilai tidak cukup hanya mengandalkan pembelian perangkat dan sistem teknologi. Ketersediaan sumber daya manusia yang mampu mengembangkan, mengoperasikan, serta mengamankan teknologi menjadi faktor penting dalam menghadapi tantangan digital yang semakin kompleks.
Hal tersebut disampaikan Rektor Institut Teknologi Tangerang Selatan (ITTS) Onno W. Purbo saat ditemui di sela-sela ajang Indonesia Technology & Innovation (INTI) 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Menurut Onno, Indonesia memiliki potensi untuk membangun dan mengembangkan teknologi sendiri, termasuk di bidang artificial intelligence (AI) dan keamanan siber. Karena itu, pengembangan teknologi nasional harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas talenta digital.
“Indonesia sebenarnya bisa bikin sendiri. Kita tidak harus tergantung pada ChatGPT, Gemini, dan segala macam. Kita bisa membuat sendiri,” ujar Onno.
Pendidikan Teknologi Harus Terbuka
Onno mengatakan, ITTS bersama jejaringnya terus mendorong pemerataan akses terhadap pendidikan teknologi. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menyediakan berbagai materi pembelajaran secara gratis agar dapat dipelajari masyarakat secara luas.
Ia menyebut telah tersedia 23 buku pembelajaran AI untuk jenjang SD, SMP, SMA, dan SMK yang dapat diakses secara gratis dan telah diunduh sekitar 4 juta kali.
“Ilmunya kita lepas gratis. Tujuannya supaya bangsa Indonesia bisa pintar dan bisa membangun teknologinya sendiri,” katanya.
Selain buku pembelajaran, ITTS juga menyediakan materi pendidikan teknologi melalui Open Course ITTS, yang mencakup berbagai bidang seperti teknologi informasi, AI, keamanan siber, hacking, hingga pengembangan teknologi.
AI Tak Sekadar untuk Percakapan
Di ajang INTI 2026, Onno turut memperlihatkan sejumlah pengembangan teknologi yang dilakukan tim ITTS, termasuk pemanfaatan AI untuk menganalisis informasi yang tersedia secara terbuka di internet.
Menurutnya, teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari riset dan investigasi informasi hingga membantu dunia usaha membaca perkembangan kompetitor dan menyusun strategi bisnis.
Sebagai contoh, pelaku usaha dapat memanfaatkan teknologi untuk memetakan aktivitas kompetitor, mengetahui wilayah operasional, serta menganalisis pola perkembangan bisnis.
“Misalnya kita dagang sabun. Kita ingin tahu kompetitor bergerak ke mana, mengerjakan apa, dan berada di kota mana saja. Kita bisa melihat petanya sehingga strategi bisnis bisa disusun dengan lebih baik,” jelasnya.
Karena itu, menurut Onno, AI perlu dipandang lebih luas sebagai instrumen untuk analisis data, riset, pengambilan keputusan, dan pengembangan strategi bisnis, bukan hanya sebagai teknologi untuk percakapan atau pembuatan konten.
Ancaman Siber Makin Kompleks
Dalam kesempatan tersebut, Onno juga menyoroti tantangan keamanan siber di Indonesia yang dinilainya semakin kompleks. Ia mengatakan, berbagai organisasi dan lembaga menghadapi risiko serangan digital serta potensi kebocoran data.
Menurut Onno, kondisi keamanan digital harus menjadi perhatian serius. Penguatan sistem keamanan tidak cukup dilakukan dengan membeli perangkat atau layanan teknologi, tetapi harus dibarengi dengan kemampuan manusia yang mengelolanya.
“Beli Teknologi Saja Tidak Cukup”
Onno menilai masih ada anggapan bahwa persoalan keamanan teknologi dapat diselesaikan hanya dengan menyediakan anggaran dan membeli perangkat.
Padahal, teknologi membutuhkan tenaga ahli untuk melakukan instalasi, konfigurasi, pengoperasian, pemantauan, pemeliharaan, hingga pengembangan sistem.
“Komputer itu bukan seperti lemari es. Dibeli, dicolok, lalu selesai. Harus di-install, dikonfigurasi, dan dioperasikan. Itu membutuhkan orang pintar,” tegasnya.
Ia mencontohkan program pembelajaran keamanan siber yang diselenggarakan secara gratis melalui ITTS. Menurut Onno, program tersebut pernah diikuti sekitar 40 ribu pendaftar, tetapi hanya sekitar 70 peserta yang berhasil memenuhi standar kelulusan.
Menurutnya, angka tersebut menunjukkan besarnya tantangan dalam mencetak tenaga ahli keamanan siber yang benar-benar memiliki kemampuan teknis.
“Kalau lembaga pemerintah dan institusi yang harus diamankan jumlahnya ratusan, kemudian tenaga ahlinya hanya puluhan, bagaimana kita mau mempertahankan Republik?” ujarnya.
Kampus Harus Melahirkan Praktisi
Onno juga menilai perguruan tinggi perlu beradaptasi dengan kebutuhan industri digital yang berkembang sangat cepat. Kampus, menurutnya, tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang menguasai teori, tetapi juga harus melahirkan praktisi yang mampu menyelesaikan persoalan teknologi di lapangan.
Ia mengungkapkan, tingginya kebutuhan industri terhadap talenta digital bahkan membuat mahasiswa dengan kemampuan teknis mulai direkrut perusahaan sebelum menyelesaikan pendidikan.
“Mahasiswa kita bahkan sudah diambil sejak semester tiga. Mereka bekerja, kemudian kuliahnya pindah ke kelas malam,” katanya.
Fenomena tersebut, lanjutnya, menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap tenaga digital yang kompeten semakin tinggi.
Kolaborasi untuk Kemandirian Teknologi
Kehadiran ITTS dalam ekosistem INTI 2026 menjadi momentum untuk memperkenalkan berbagai pengembangan teknologi sekaligus memperluas kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, pemerintah, dan komunitas teknologi.
Onno menegaskan, Indonesia memiliki peluang besar untuk membangun kemandirian teknologi apabila pembangunan infrastruktur digital berjalan beriringan dengan pembangunan sumber daya manusia.
“Teknologinya ada. Ilmunya ada. Yang menjadi masalah adalah orangnya. Karena itu manusianya harus kita siapkan,” pungkasnya.
Ajang INTI 2026 di JIExpo Kemayoran menjadi ruang pertemuan bagi pelaku teknologi, inovasi, digitalisasi, AI, dan smart manufacturing untuk memperkuat konektivitas antara perkembangan teknologi dengan kebutuhan industri nasional.












