Berita  

Pendidikan Tinggi Psikologi Didorong Makin Kontributif untuk Indonesia Maju dan Sehat

Avatar photo
banner 120x600

JAKARTA — Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) bersama Asosiasi Penyelenggara Pendidikan Tinggi Psikologi Indonesia (AP2TPI) dan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) mendorong penguatan peran pendidikan tinggi psikologi agar semakin mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung pembangunan nasional.

Komitmen tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional bertajuk “Pendidikan Tinggi Psikologi untuk Indonesia Maju dan Sehat” yang digelar di Artotel Gelora Senayan, Jakarta, Selasa (11/08/2026).

Seminar nasional ini menjadi ruang dialog antara perguruan tinggi penyelenggara pendidikan psikologi dengan kementerian, lembaga, badan, TNI-Polri, serta berbagai pemangku kepentingan sebagai pengguna lulusan psikologi.

Ketua AP2TPI sekaligus Dekan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Rahmat Hidayat, M.Sc., Ph.D., mengatakan pendidikan tinggi psikologi merupakan bagian penting dari sistem pendidikan nasional yang harus terus memastikan lulusannya mampu memberikan manfaat luas bagi berbagai sektor kehidupan masyarakat.

“Tujuannya tentu kita ingin memberikan manfaat yang sebesar-besarnya untuk setiap sektor di dalam kehidupan masyarakat,” ujar Rahmat.

Menurutnya, penyelenggaraan pendidikan psikologi telah memiliki landasan regulasi di bidang pendidikan tinggi dan pendidikan profesi psikologi. Namun, ketika lulusan psikologi memasuki berbagai sektor, terdapat pula regulasi sektoral yang perlu diselaraskan.

Karena itu, AP2TPI memandang penting keterlibatan langsung para pengguna lulusan dari kementerian, lembaga, dan badan untuk membangun keselarasan antara pendidikan tinggi psikologi dengan kebutuhan di lapangan.

Rahmat mengapresiasi kehadiran berbagai pemangku kepentingan, termasuk kementerian, TNI-Polri, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Badan Narkotika Nasional (BNN), serta BKKBN.

“Kami mengapresiasi kesediaan pengguna lulusan psikologi. Ini menjadi awal bagi kita untuk terus berproses memastikan bahwa profesi psikologi nanti dapat berkontribusi sebanyak-banyaknya untuk pembangunan nasional menuju Indonesia yang maju,” katanya.

Kompetensi Psikolog Harus Ditopang Empat Pilar

Sementara itu, Ketua Umum HIMPSI Dr. Andik Matulessy, M.Si., Psikolog, menegaskan bahwa ruang lingkup profesi psikolog jauh lebih luas dibandingkan layanan kesehatan semata.

Menurut Andik, psikolog memiliki kompetensi untuk memberikan layanan psikologi di berbagai institusi dan sektor, mulai dari kesehatan, olahraga, ketenagakerjaan, keluarga, rehabilitasi sosial hingga sektor pemerintahan.

“Skop psikolog itu sangat luas, tidak hanya dalam konteks kesehatan,” tegasnya.

Ia menjelaskan, profesionalitas seorang psikolog harus dibangun melalui empat komponen utama, yakni knowledge, skill, experience, dan etika.

Knowledge diperoleh melalui proses pendidikan profesi, sementara skill dikembangkan melalui berbagai pelatihan, workshop dan seminar. Pengalaman dibangun melalui praktik, magang serta supervisi dari psikolog yang lebih senior.

Adapun etika menjadi fondasi penting agar psikolog memahami batas-batas profesional dalam memberikan layanan, termasuk menjaga kerahasiaan klien.

“Seorang psikolog yang profesional itu juga harus punya etika, dia tahu mana yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan,” ujar Andik.

Menurutnya, empat komponen tersebut juga penting dalam memastikan psikolog memiliki kompetensi yang jelas ketika bekerja dalam proses seleksi, promosi maupun menjalankan fungsi profesional di berbagai lembaga.

Psikolog Tak Hanya Hadir Saat Masalah Terjadi

Ketua Panitia sekaligus Dekan Fakultas Psikologi UI Dicky C. Pelupessy, Ph.D., mengatakan seminar nasional tersebut tidak hanya menjadi forum akademik, tetapi juga momentum untuk memperkenalkan kontribusi pendidikan tinggi psikologi kepada publik dan berbagai sektor yang membutuhkan layanan psikologi.

Dicky menjelaskan, kegiatan tersebut sengaja menyasar kementerian, lembaga dan badan yang berpotensi menjadi mitra strategis pendidikan tinggi psikologi.

“Pertama, kami ingin memberikan informasi ke publik seperti apa kami bisa berkontribusi dan sejauh apa selama ini kami sudah berkontribusi,” katanya.

Menurut Dicky, kebutuhan terhadap kompetensi psikologi terdapat di berbagai sektor. Di bidang kesehatan, misalnya, psikolog dapat berperan dalam layanan primer seperti puskesmas. Di sektor kependudukan dan pembangunan keluarga, psikolog dapat berkontribusi memperkuat kader keluarga, sedangkan dalam rehabilitasi sosial psikolog dapat mendukung berbagai program pemulihan dan pemberdayaan masyarakat.

Karena itu, pendidikan tinggi psikologi didorong tidak hanya menghasilkan lulusan yang mampu menangani persoalan ketika sudah terjadi, tetapi juga memiliki kemampuan melakukan pencegahan dan promosi kesehatan mental.

Dicky mencontohkan edukasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental sebagai bagian dari upaya preventif. Psikolog juga dapat berperan dalam mempromosikan pola hidup sehat secara mental kepada masyarakat.

“Lulusan kami bisa memberikan informasi dan edukasi untuk pencegahan. Kemudian kami juga memperkuat mereka dengan kemampuan melakukan upaya-upaya promotif,” jelasnya.

Selain fasilitas kesehatan, lulusan pendidikan psikologi juga dipersiapkan untuk menangani persoalan psikologis di sekolah, tempat kerja, dan komunitas.

Dengan demikian, psikolog diharapkan dapat menjadi bagian dari ekosistem pembangunan manusia yang tidak hanya bekerja pada aspek kuratif atau penanganan kasus, tetapi juga mengambil peran strategis dalam membangun masyarakat yang sehat secara mental.

Perluas Akses Layanan Psikologi

Seminar nasional ini juga menyoroti pentingnya memperluas akses masyarakat terhadap layanan psikologi agar tidak dipersepsikan sebagai layanan yang mahal dan sulit dijangkau.

Dicky menilai aksesibilitas harus menjadi bagian dari penguatan sistem layanan kesehatan dan layanan sosial, sehingga masyarakat dapat memperoleh dukungan psikologis sesuai kebutuhannya.

Menurutnya, kompetensi lulusan psikologi yang dipersiapkan untuk bekerja di fasilitas kesehatan, sekolah, tempat kerja hingga komunitas dapat menjadi salah satu modal penting untuk memperluas jangkauan layanan.

“Psikolog itu bisa menjadi bagian dari prevensi dan promosi sehat mental, bukan hanya di fasilitas layanan kesehatan, tetapi juga di sekolah maupun komunitas,” ujarnya.

Seminar nasional ini sekaligus memperkuat pesan bahwa pembangunan Indonesia yang maju membutuhkan perhatian yang seimbang terhadap kualitas sumber daya manusia, termasuk kesehatan mental masyarakat.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, organisasi profesi, kementerian, lembaga dan berbagai sektor pengguna lulusan diharapkan mampu membangun ekosistem pendidikan dan layanan psikologi yang semakin profesional, kompeten, beretika, inklusif, serta relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Dengan penguatan tersebut, pendidikan tinggi psikologi diharapkan tidak hanya mencetak tenaga profesional, tetapi juga menjadi salah satu kekuatan strategis dalam membangun Indonesia yang maju, sehat, dan berketahanan secara psikologis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *