Pindad Dorong Penguatan Mesin Perkakas dan Rantai Pasok Industri Pertahanan Nasional

Avatar photo
banner 120x600

Suara Pembaharuan.net|| JAKARTA — Penguatan industri mesin perkakas dan integrasi rantai pasok nasional dinilai menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan kemandirian industri strategis, termasuk industri pertahanan. Kolaborasi antara industri pengguna, produsen mesin, manufaktur komponen, lembaga pendidikan, dan pelaku industri pendukung menjadi penting untuk memperkuat kemampuan produksi dalam negeri.

Hal tersebut disampaikan General Manager Alat Berat PT Pindad, Andri Setiyoso, saat menjadi salah satu pembicara dalam diskusi panel bertajuk “Scaling Up Machine Tools: Investment Opportunities & Supply Chain Integration” yang merupakan bagian dari rangkaian Indonesia Technology & Innovation (INTI) – Indo Machinery Investment & Trade Show 2026 di JI-Expo Kemayoran, Jakarta, Selasa (12/8/2026).

Diskusi panel tersebut menghadirkan Ketua Umum Asosiasi Industri Mesin Perkakas Indonesia (ASIMPI) Soeroyo Prihantono, Direktur Indonesia Mold & Die Industry Association (IMDIA) Petrus Tedja Hapsoro, dosen Institut Teknologi Bandung (ITB), serta Andri Setiyoso dari PT Pindad.

Dalam paparannya, Andri menjelaskan bahwa kebutuhan terhadap mesin perkakas di industri pertahanan sangat beragam dan bersifat spesifik. Sejumlah komponen membutuhkan mesin dengan kemampuan khusus karena berkaitan dengan tingkat presisi, karakteristik material, serta proses produksi yang berbeda.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat pengembangan industri mesin perkakas dalam negeri tidak cukup hanya berorientasi pada produksi mesin secara umum. Diperlukan pemahaman terhadap kebutuhan industri pengguna sehingga mesin yang dikembangkan benar-benar mampu menjawab kebutuhan produksi.

Kita perlu berdiskusi dengan maker-nya. Kita ingin tahu output-nya seperti apa dan mekanismenya bagaimana, sehingga mesin yang dibuat benar-benar menghasilkan barang yang dibutuhkan,” ujar Andri.

Ia mencontohkan kebutuhan dalam industri pertahanan yang memiliki berbagai tahapan produksi, mulai dari pembuatan komponen mekanik, proses pembentukan, pemesinan, hingga proses pencucian dan penyelesaian akhir. Setiap tahapan tersebut membutuhkan dukungan peralatan dan mesin yang sesuai.

Andri juga menyoroti pentingnya penguatan industri komponen dan subkontraktor nasional. Menurutnya, tidak seluruh komponen harus diproduksi secara langsung oleh industri utama. Sebagian komponen dapat dikerjakan oleh industri pendukung melalui skema subkontrak, sehingga menciptakan ekosistem rantai pasok yang lebih luas.

Di rumah mekanik itu ada banyak sekali komponen. Kita juga menggunakan subkontrak untuk komponen tertentu. Ini yang kemudian perlu diperkuat dalam ekosistem industri kita,” katanya.

Menurut Andri, pola tersebut dapat membuka peluang investasi bagi industri mesin perkakas dan manufaktur nasional. Ketika kebutuhan industri utama semakin besar, industri pendukung juga memiliki peluang untuk tumbuh, termasuk dalam penyediaan mesin, tooling, cetakan, komponen presisi, hingga jasa manufaktur.

Ia menambahkan, karakteristik industri pertahanan juga menuntut mesin-mesin tertentu yang bersifat dedicated atau dirancang untuk kebutuhan produksi spesifik. Karena itu, pengembangan mesin harus dilakukan melalui komunikasi erat antara pengguna dan pembuat mesin.

Mesin yang hanya dipakai untuk membuat produk tertentu memang bersifat dedicated. Karena itu kita perlu membicarakan kebutuhan tersebut dengan maker agar output mesin sesuai dengan yang kita perlukan,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Andri juga menyampaikan bahwa PT Pindad terus mengembangkan kemampuan manufaktur dan memanfaatkan potensi industri dalam negeri untuk mendukung berbagai kebutuhan produksinya. Kolaborasi dengan perusahaan nasional menjadi bagian dari upaya membangun kemampuan produksi dan rantai pasok yang lebih kuat.

Ia menyebut kerja sama dengan sejumlah perusahaan, termasuk PT Barata Indonesia, menjadi salah satu contoh kolaborasi yang dilakukan dalam pengembangan dan pemanfaatan mesin untuk kebutuhan industri.

Penguatan ekosistem tersebut dinilai penting karena industri pertahanan tidak hanya membutuhkan produk akhir, tetapi juga membutuhkan kemampuan manufaktur yang kuat dari hulu hingga hilir.

Melalui integrasi antara industri mesin perkakas, manufaktur komponen, industri pengguna, perguruan tinggi, serta lembaga riset, Indonesia diharapkan mampu meningkatkan kapasitas produksi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap mesin dan komponen dari luar negeri.

Diskusi “Scaling Up Machine Tools: Investment Opportunities & Supply Chain Integration” menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam membahas peluang investasi, peningkatan kapasitas mesin perkakas, serta penguatan rantai pasok manufaktur nasional.

Bagi industri pertahanan, penguatan ekosistem tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek bisnis, tetapi juga menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan industri nasional yang mandiri, adaptif, dan berdaya saing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *