Suara pembaharuan.net||Kota Bekasi, Saat kota mulai tertidur, justru di situlah kewaspadaan harus ditingkatkan. Menyadari kerentanan keamanan pada jam-jam sunyi, Polsek Bekasi Selatan mengintensifkan kehadiran mereka melalui Program Jaga Jakarta On The Spot. Pada Selasa dini hari (15/9/2026), jajaran kepolisian menggelar razia stasioner di titik-titik yang dinilai rawan terhadap kejahatan jalanan dan konvensional.
Sebanyak 10 personel diterjunkan di bawah komando langsung Kanit Samapta, AKP Nono Sugihartono, S.H. Operasi ini bukan sekadar formalitas patroli, melainkan langkah strategis untuk mempersempit ruang gerak pelaku kriminal. Sasaran utama meliputi pengecekan kepemilikan senjata tajam (sajam), senjata api ilegal, narkoba, serta aktivitas mencurigakan lainnya yang berpotensi mengganggu ketertiban umum.
“Kami hadir di jam dan lokasi yang dianggap rawan untuk mencegah terjadinya kejahatan jalanan sekaligus mempersempit ruang gerak para pelaku kejahatan,” tegas AKP Nono Sugihartono.
Ia menekankan bahwa pendekatan yang digunakan adalah preventif dan humanis, sesuai dengan koridor hukum yang berlaku.
Hasil operasi malam itu menunjukkan situasi yang kondusif. Tidak ditemukan pelanggaran pidana berat selama kegiatan berlangsung. Namun, bagi masyarakat, ketiadaan kasus kriminal dalam satu malam bukanlah jaminan mutlak keamanan jangka panjang, melainkan sinyal bahwa pengawasan terus dilakukan.
Harapan akan Konsistensi, Bukan Sekadar Seremonial
Di balik laporan resmi kepolisian, terdapat harapan mendalam dari warga yang hidup berdampingan dengan ketidakpastian keamanan. Bagi mereka, razia adalah obat penenang sesaat, namun konsistensi adalah kunci utama.
Budi Santoso (42), seorang ojek online yang sering beroperasi hingga larut malam di kawasan Bekasi Selatan, menyambut baik langkah polisi namun menyisipkan kritik konstruktif.
“Saya senang melihat polisi turun ke jalan saat kami masih bekerja. Rasanya lebih tenang ada lampu rotator di sekitar. Tapi harapan saya, jangan sampai ini hanya jadi kegiatan ‘proyek’ sesaat atau sekadar foto-foto untuk laporan. Kami butuh kehadiran yang konsisten setiap malam, bukan hanya sewaktu-waktu. Karena kejahatan tidak punya jadwal,” ujar Budi.
Sementara itu, Ratna Dewi (35), ibu rumah tangga di dekat titik razia, menekankan pentingnya kolaborasi antara polisi dan warga.
“Razia itu bagus untuk efek jera. Tapi kami juga berharap polisi bisa lebih proaktif mendengarkan keluhan warga tentang titik-titik gelap atau gang-gang sempit yang sering jadi tempat nongkrong pemuda mabuk. Jika polisi dan warga saling percaya dan rutin berkomunikasi, pencegahan akan jauh lebih efektif daripada hanya menangkap setelah kejadian,” tambahnya.
Warga juga mengapresiasi kemudahan akses pelaporan melalui Layanan Polisi 110 dan WhatsApp Polres Metro Bekasi Kota (081326361995). Mereka berharap respons terhadap laporan tersebut secepat dan setegas pelaksanaan razia di lapangan.
Dari Represif ke Preventif Berkelanjutan
Langkah Polsek Bekasi Selatan ini patut diapresiasi sebagai upaya nyata menjaga stabilitas Kamtibmas. Namun, tantangan terbesar kepolisian modern bukan hanya pada kemampuan menangkap pelaku, tetapi pada kemampuan menciptakan lingkungan yang tidak kondusif bagi tumbuhnya kejahatan.
Razia stasioner adalah alat yang efektif, namun ia harus didukung oleh intelijen masyarakat yang kuat dan penanganan akar masalah sosial. Jika program Jaga Jakarta On The Spot dapat dijalankan secara berkelanjutan tanpa pandang bulu, maka rasa aman bukan lagi sekadar harapan, melainkan hak yang benar-benar dirasakan oleh setiap warga Bekasi Selatan di setiap helaan napas malam mereka. (Humas Polsek Bekasi Selatan)














