PT Trans Power Marine Tbk Fokus Jaga Kinerja dan Efisiensi di Tengah Tantangan Industri Global

Avatar photo
banner 120x600

PT. Trans Power Marine Tbk menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), serta Public Expose di Four Seasons Hotel Jakarta, Selasa (19/05/26). Dalam agenda tersebut, perseroan memaparkan capaian kinerja tahun buku 2025 sekaligus strategi perusahaan menghadapi tantangan industri pelayaran dan batubara sepanjang 2026.

Acara dibuka oleh jajaran direksi yang hadir, di antaranya Presiden Direktur Ronny Kurniawan, Wakil Presiden Direktur Patricia, Wakil Presiden Direktur Daniel Wardoyo, Direktur Rudy Sutiono, Direktur Armand Zuaidi, serta Investor Relations Audi.

Dalam RUPST, pemegang saham menyetujui dan mengesahkan laporan tahunan perseroan untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2025. Perseroan juga menyepakati pembagian dividen sebesar Rp42 per saham dengan total nilai mencapai Rp8,48 juta dolar AS dan dividend payout ratio sebesar 47,5 persen. Sementara sisa laba bersih ditetapkan sebagai laba ditahan guna mendukung kebutuhan modal kerja perusahaan.

Selain itu, pemegang saham juga menyetujui pengangkatan Patricia Pratihwi Suwati Prasatya sebagai Wakil Direktur Utama Perseroan.

Dalam pemaparannya, manajemen menjelaskan bahwa industri batubara sepanjang 2025 mengalami normalisasi produksi nasional menjadi 790 juta ton atau turun sekitar 5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan tersebut dipengaruhi tekanan perang dagang global serta normalisasi harga batubara internasional yang berdampak pada penyesuaian produksi sejumlah perusahaan tambang.

Meski demikian, PT Trans Power Marine Tbk menilai kebutuhan jasa transportasi maritim masih tetap kuat seiring tingginya aktivitas pengangkutan batubara nasional.

Sepanjang 2025, secara konsolidasi perseroan menerima 14 unit kapal tunda, 15 unit tongkang, dan satu unit floating crane. Hingga akhir 2025, armada konsolidasi perusahaan tercatat mencapai 92 kapal tunda, 82 tongkang, serta lima floating crane.

Dari sisi operasional, volume barging pada 2025 meningkat 3 persen menjadi 19,2 juta ton. Sementara volume floating crane tumbuh signifikan sebesar 32 persen menjadi 12,14 juta ton.

Namun demikian, pendapatan perseroan mengalami penurunan sekitar 5 persen menjadi 113,5 juta dolar AS akibat penyesuaian tarif angkut untuk mendukung keberlanjutan industri batubara. Perseroan tetap membukukan gross profit sebesar 32,4 juta dolar AS dengan gross profit margin 29 persen serta EBITDA sebesar 48 juta dolar AS.

Laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada perseroan tercatat sebesar 17,9 juta dolar AS dengan net profit margin sebesar 18 persen.

Direktur PT Trans Power Marine Tbk, Rudy Sutiono, menegaskan bahwa perusahaan tetap berhati-hati dalam melakukan ekspansi armada di tengah kondisi ekonomi global yang penuh tantangan.

Menurutnya, penambahan armada pada 2026 bukan merupakan kontrak baru, melainkan kelanjutan dari pemesanan kapal yang telah dilakukan sejak beberapa tahun sebelumnya.

“Kami tidak melakukan ekspansi besar-besaran. Penambahan armada ini lebih kepada regenerasi armada agar usia rata-rata kapal tetap terjaga. Kami juga fokus menjaga utilisasi seluruh kapal agar tetap optimal,” ujar Rudy.

Ia menambahkan bahwa tantangan industri sepanjang 2026 dipengaruhi berbagai faktor eksternal seperti ketidakpastian RKAB, penurunan harga batubara dunia, hingga kondisi geopolitik global. Meski demikian, perusahaan optimistis dapat bertahan karena memiliki hubungan jangka panjang dengan pelanggan utama yang telah bekerja sama selama 5 hingga 20 tahun.

“Kami percaya kondisi ini pernah terjadi sebelumnya pada 2016 dan kami berhasil melewatinya. Saat ini seluruh armada kami tetap beroperasi dan tidak ada yang menganggur,” katanya.

Sementara itu, Presiden Direktur Ronny Kurniawan menyampaikan bahwa tahun 2026 diperkirakan masih menjadi periode penuh tantangan bagi industri pelayaran dan batubara nasional.

Perseroan memproyeksikan adanya penurunan laba bersih dibandingkan 2025, namun manajemen berupaya agar penurunannya tidak melebihi 20 persen.

“Strategi utama kami saat ini adalah menjaga posisi kas dan tingkat leverage tetap sehat. Dengan kondisi pasar seperti sekarang, menjaga cash flow dan efisiensi menjadi prioritas utama perusahaan,” ujar Ronny.

Ia juga menegaskan bahwa perusahaan belum memiliki rencana melakukan buyback saham dan akan lebih fokus mempertahankan fundamental bisnis di tengah tekanan pasar global.

Dengan strategi efisiensi operasional, optimalisasi utilisasi armada, serta penguatan hubungan dengan pelanggan, PT Trans Power Marine Tbk optimistis tetap mampu menjaga keberlangsungan usaha dan mempertahankan kinerja positif di tengah dinamika industri sepanjang 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *