Jakarta, 30 Juli 2026 – PT Green Power Group Tbk (BEI: LABA) menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 sekaligus Paparan Publik di Gedung Cyber, Jakarta, Kami (30/7/2026). Perseroan menegaskan komitmennya memperkuat transformasi sebagai perusahaan penyedia solusi energi baru terbarukan (EBT), baterai, kendaraan listrik, serta infrastruktur hijau dengan menargetkan pendapatan Rp40 miliar dan laba bersih Rp5 miliar sepanjang 2026.
Perseroan yang sebelumnya dikenal sebagai PT Ladangbaja Murni Tbk kini telah bertransformasi dari industri pengolahan besi dan baja menjadi perusahaan yang berfokus pada pengembangan energi bersih. Melalui transformasi tersebut, Green Power Group memperkuat bisnis di sektor baterai, sistem penyimpanan energi, perdagangan komponen energi, hingga layanan pendukung ekosistem kendaraan listrik.
RUPST juga menetapkan susunan manajemen Perseroan yang terdiri dari Direktur Utama Chen Xiaoxiao, Direktur Wahyu Eka Saputra, dan Direktur Kurnia Ngatimin. Sementara Dewan Komisaris dipimpin Komisaris Utama Sutanty Jakidjan, Komisaris Hanry Darsono, serta Komisaris Independen Erik Jahja.
Dalam paparannya, Direktur Wahyu Eka Saputra menyampaikan bahwa Perseroan menyiapkan belanja modal (Capital Expenditure/CapEx) sebesar Rp6 miliar pada 2026. Dana tersebut akan dialokasikan untuk pembelian mesin injeksi, mesin moulding, serta berbagai peralatan pendukung operasional guna meningkatkan kapasitas produksi.
Menurut Wahyu, pertumbuhan industri energi baru terbarukan membuka peluang besar bagi Green Power Group untuk semakin memperkuat posisi di industri baterai nasional. Melalui anak usaha PT Green Power Battery, Perseroan akan memperluas bisnis baterai beserta ekosistemnya, sedangkan PT Green Power Precision Indonesia akan meningkatkan kapasitas usaha molding melalui kerja sama strategis dengan berbagai mitra industri.
Selain itu, Green Power Group juga memperluas lini usaha melalui anak perusahaan PT Sustainable Energy Development Trading yang kini bergerak di bidang jasa konsultasi, sehingga diharapkan mampu memberikan kontribusi tambahan terhadap pertumbuhan pendapatan Perseroan.
Meski mengakui sejumlah target pada 2025 belum sepenuhnya tercapai akibat perubahan kebijakan pemerintah, terutama terkait penyesuaian dan tertundanya implementasi insentif sepeda motor listrik yang berdampak pada bisnis penyewaan kendaraan listrik, Perseroan tetap mencatat berbagai pencapaian positif.
Di antaranya adalah keberhasilan memasang jaringan battery swap cabinet di berbagai wilayah Jabodetabek, menjalin kerja sama dengan perusahaan drone sebagai pemasok baterai, serta memperluas kolaborasi bisnis di sektor molding.
Untuk tahun 2026, Green Power Group memproyeksikan pendapatan sebesar Rp40 miliar dengan laba bersih Rp5 miliar. Target tersebut akan ditopang oleh dua segmen utama, yakni penjualan molding dan aktivitas perdagangan, serta pengembangan bisnis baterai berikut ekosistem pendukungnya seperti battery swap cabinet.
Perseroan juga menegaskan akan terus memperkuat produk dan layanan energi terbarukan, meningkatkan kemampuan operasional secara berkelanjutan, memperluas kerja sama strategis dengan berbagai mitra, serta menjalankan ekspansi usaha secara terukur dengan tetap mengedepankan prinsip tata kelola perusahaan yang baik.
Dari sisi kinerja keuangan, Green Power Group membukukan hasil positif pada Kuartal I 2026. Laba bersih melonjak 207,86 persen menjadi Rp6,08 miliar dibandingkan Rp1,98 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Harga pokok penjualan juga turun 57,01 persen menjadi Rp1,29 miliar. Sementara laba kotor tercatat sebesar Rp2,06 miliar.
Manajemen menyebutkan, meskipun dinamika regulasi pemerintah, kebutuhan pendanaan ekspansi, dan tantangan pelaksanaan proyek masih menjadi perhatian utama, Perseroan tetap optimistis prospek bisnis energi terbarukan di Indonesia akan terus berkembang.
Ke depan, Green Power Group akan terus mengembangkan manufaktur baterai, memperluas penerapan energi terbarukan, meningkatkan kemampuan operasional di sektor kendaraan ramah lingkungan, memperkuat kolaborasi dalam ekosistem energi hijau, serta menjaga tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan agar pertumbuhan bisnis berjalan secara sehat dan berkelanjutan.














