Setya Graha: Alat Berat EV Berpotensi Pangkas Biaya Bahan Bakar 30–40 Persen

Avatar photo
banner 120x600

Suara pembaharuan.net||JAKARTA — Elektrifikasi alat berat menjadi salah satu perhatian dalam upaya meningkatkan efisiensi dan daya saing industri pertambangan. Presiden Direktur PT Surya Kalimantan Sejati, Setya Graha, mengatakan penggunaan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) untuk operasional tambang memiliki potensi efisiensi yang cukup signifikan, meski masih menghadapi tantangan dari sisi investasi dan infrastruktur.

Hal tersebut disampaikan Setya Graha usai menjadi salah satu pembicara dalam Seminar “Navigating Mining Competitiveness: Market Dynamics, Asset Performance and Infrastructure Solutions” yang digelar di GPN Stage, Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta, Rabu (9/9/2026). Seminar tersebut merupakan bagian dari rangkaian pameran Mining Indonesia.

Dalam seminar tersebut, Setya Graha turut menyoroti perkembangan teknologi alat berat dan kebutuhan infrastruktur pendukung untuk sektor pertambangan. Menurutnya, penerapan alat berat berbasis listrik saat ini masih dilakukan secara bertahap karena ketersediaan unit dengan kapasitas tertentu masih menjadi tantangan.

“Kalau yang 60 ton untuk di BP, kami sudah hampir 100 unit. Ini 40, justru tantangannya yang kecil,” ujar Setya Graha.

Ia menjelaskan, untuk pengembangan alat berat berkapasitas sekitar 40 ton, perusahaan masih melihat proses tersebut sebagai bagian dari trial and error. Pengadaan pun diperkirakan dilakukan secara bertahap hingga 2027, sejalan dengan kesiapan pengembangan dari pihak mitra dan kemampuan investasi.

Salah satu teknologi yang menjadi pilihan perusahaan adalah sistem battery swap atau penggantian baterai. Setya mengatakan sistem tersebut dinilai lebih efisien untuk kegiatan long hauling dengan jarak di bawah 50 kilometer. Sementara untuk jarak yang lebih jauh, sistem charging dapat menjadi alternatif yang lebih efisien.

Dari sisi biaya operasional, penggunaan EV dinilai memiliki prospek yang menarik. Setya memperkirakan perpindahan dari alat berat berbasis bahan bakar menuju listrik berpotensi memberikan penghematan biaya bahan bakar sekitar 30–40 persen. Namun, ia menegaskan angka tersebut masih berupa perkiraan karena perusahaan belum melakukan studi hingga tingkat penghematan maksimal.

“Perkiraan sih antara 30–40 persen bisa. Sangat signifikan untuk kami,” katanya.

Meski menawarkan efisiensi, Setya mengakui investasi awal atau capital expenditure (CAPEX) menjadi tantangan utama. Menurutnya, harga alat berat listrik saat ini masih lebih mahal dibandingkan alat berat berbasis bahan bakar. Selain itu, pembangunan infrastruktur pendukung juga membutuhkan investasi yang tidak kecil.

Karena itu, ia berharap pemerintah melalui regulator dapat memberikan dukungan kebijakan yang lebih kuat bagi sektor pertambangan yang melakukan transisi menuju elektrifikasi. Salah satu bentuk dukungan yang dinilai penting adalah insentif terhadap alat berat listrik, sehingga biaya investasinya dapat lebih kompetitif.

“Kalau itu didukung, setidak-tidaknya harga investasi untuk EV heavy equipment itu paling tidak sama dengan fuel, atau bahkan lebih rendah sebagai insentif,” jelas Setya.

Ia membandingkan kondisi tersebut dengan kendaraan listrik penumpang yang telah memperoleh dukungan kebijakan. Sementara bagi sektor pertambangan, biaya pembangunan infrastruktur dan investasi alat berat pada dasarnya harus diserap sendiri oleh pelaku usaha.

Menurut Setya, kondisi tersebut membuat sebagian pelaku usaha masih berhitung sebelum mengalokasikan CAPEX untuk elektrifikasi. Terlebih, perusahaan juga harus mempertimbangkan perkembangan harga bahan bakar pada tahun-tahun mendatang.

“Efisiensi untuk mengganti dari fuel ke EV itu menggoda, tapi CAPEX-nya juga membuat menderita. Jadi ini pilihan yang mana, menderita atau godaan tadi. Kami akhirnya pilih, ya sudah, godaannya kami ambil,” ungkapnya.

Selain membahas elektrifikasi, Setya Graha menyampaikan perkembangan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) perusahaan. Ia mengatakan perusahaan memiliki komitmen 100 persen Domestic Market Obligation (DMO), sementara alokasi RKAB yang sebelumnya belum penuh telah direvisi menjadi penuh.

Untuk kebutuhan di Kalimantan Tengah, Setya menyebut angkanya sekitar 1,2 juta, sedangkan untuk Sumatera Selatan mendekati 2 juta. Ia menilai revisi tersebut memberikan kepastian yang cukup signifikan bagi kegiatan operasional perusahaan.

PT Surya Kalimantan Sejati sendiri merupakan perusahaan dengan produk utama batu bara dan anak usaha PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dari Sinar Mas Group. Perusahaan mengoperasikan tambang batu bara di Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah, serta menjadi pemasok batu bara untuk kebutuhan bahan bakar PLTU di wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.

Setya berharap forum seperti Seminar “Navigating Mining Competitiveness” dapat mempertemukan pelaku industri, regulator, dan penyedia teknologi untuk mencari solusi bersama terhadap tantangan pertambangan. Menurutnya, dukungan terhadap investasi dan infrastruktur menjadi kunci agar transformasi teknologi, termasuk elektrifikasi alat berat, dapat berjalan tanpa mengurangi daya saing industri.

“Yang penting terutama dari sisi investasi bisa meringankan, karena semua capital expenditure kami yang serap, bukan pihak lain,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *