Berita  

Sinar Hijau Ventures Dorong Pemberdayaan Petani dan Hilirisasi Rempah untuk Nature-Positive Indonesia

Avatar photo
banner 120x600

BOGOR — Penguatan kapasitas petani dan keterhubungan dengan pasar global dinilai menjadi bagian penting dalam mewujudkan transformasi menuju ekonomi yang lebih adil dan nature-positive di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Co-Founder Sinar Hijau Ventures, Anna Urbinas, saat menjadi salah satu pembicara dalam Forum Dialog Multipihak bertajuk “Membangun Narasi Bersama Menuju Nature-Positive Indonesia” yang digelar I-CAN Think Forum di Auditorium Andi Hakim Nasution, IPB University, Bogor, Kamis (13/08/2026).

I-CAN Think Forum merupakan salah satu pilar utama IPB Centre for Applied Research in Nature-based Solutions (I-CAN), yang berperan sebagai ruang untuk memobilisasi pengetahuan, berbagi pembelajaran lapangan, serta menerjemahkan hasil riset mengenai nature-based solutions menjadi rekomendasi kebijakan dan praktik nyata.

Dalam forum tersebut, Anna berbagi pengalaman Sinar Hijau Ventures dalam membangun jembatan antara petani, hasil hutan, inovasi produk, dan pasar. Menurutnya, petani harus ditempatkan sebagai bagian penting dari ekosistem bisnis, bukan sekadar sebagai pemasok bahan baku.

“Sinar Hijau Ventures merupakan social enterprise. Kami melihat petani itu seperti nadi dalam tubuh manusia. Mereka yang mengalirkan darah dari kepala sampai kaki. Karena itu, yang kami lakukan lebih banyak pada capacity building,” ujar Anna.

Sinar Hijau Ventures mengembangkan kegiatan di Maluku dan telah bekerja sama dengan sejumlah Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS). Fokusnya antara lain mendampingi petani agar mampu meningkatkan kualitas produk, memperoleh harga yang lebih adil, serta memiliki akses terhadap pasar yang lebih luas.

Anna mengatakan, pendekatan tersebut lahir dari pengalaman sebelumnya dalam program-program pemberdayaan dan pembangunan hijau. Ia melihat banyak program penguatan kapasitas petani berpotensi berhenti ketika tidak diikuti dengan dukungan akses pasar.

“Kalau tidak ada yang mendukung bagaimana petani-petani yang sudah diperkuat kapasitasnya bisa mengakses pasar, program itu akan selesai begitu saja. Karena itu kami mencoba membangun social enterprise yang bisa menjadi jembatan dari petani ke pasar,” katanya.

Menurut Anna, Sinar Hijau Ventures berupaya menghubungkan produk petani dengan pasar melalui peningkatan kualitas, pengembangan produk, serta pemanfaatan jejaring dan peluang kerja sama. Pendekatan tersebut sekaligus diarahkan untuk membuka akses terhadap pasar internasional.

Pada 2025, Sinar Hijau Ventures berhasil melakukan ekspor sekitar 7,5 ton produk pala, fuli pala, dan bunga pala. Setelah salah satu program dukungan internasional berakhir, perusahaan tetap melanjutkan pendampingan petani dan membangun kerja sama dengan sejumlah universitas lokal di Maluku.

Anna menegaskan, keberlanjutan program tidak dapat dibangun oleh satu pihak saja. Kolaborasi antara sektor swasta, petani, perguruan tinggi, pemerintah, komunitas, dan lembaga pendukung menjadi penting untuk memastikan ekosistem usaha berjalan dalam jangka panjang.

Selain memperkuat produk primer, Sinar Hijau Ventures juga mulai mendorong hilirisasi dan pengembangan produk turunan. Upaya tersebut antara lain mencakup pengembangan minyak atsiri, bubuk pala dan cengkih, minyak kenari, hingga produk turunan lainnya.

Pendekatan nature-positive juga diterapkan melalui upaya mengurangi limbah dari proses produksi. Bagian kulit atau cangkang komoditas yang selama ini berpotensi menjadi limbah diolah dan dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi, seperti biochar dan briket.

“Kami tidak ingin hanya mengambil produk mentahnya saja, tetapi juga mengembangkan produk turunannya. Kami juga ingin mendukung zero waste, sehingga bagian yang selama ini dianggap limbah bisa memiliki nilai ekonomi,” jelas Anna.

Menurutnya, konsep bisnis yang berkelanjutan harus dimulai dari hulu. Penguatan petani menjadi fondasi penting sebelum mendorong hilirisasi dan perluasan pasar.

“Kita tidak bisa mendorong hilirisasi kalau hulunya tidak kita dukung. Oleh karena itu, kami mendukung petani terlebih dahulu supaya produk yang dihasilkan semakin baik dan pada akhirnya hilirisasi bisa berjalan,” tegasnya.

Anna juga menekankan pentingnya prinsip fairness dalam membangun bisnis. Menurut dia, keberhasilan usaha tidak semata-mata diukur dari keuntungan, tetapi juga dari sejauh mana kegiatan ekonomi memberikan manfaat yang adil bagi masyarakat dan lingkungan.

Forum dialog tersebut turut menghadirkan sejumlah pembicara dari unsur pemerintah, akademisi, komunitas, dan pelaku usaha, di antaranya Sekretaris Dirjen Perhutanan Sosial Kementerian Kehutanan RI Enik Eko Wati, Kepala Bappenda Kabupaten Muaro Jambi Budi Setiawan, Dekan Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University sekaligus Advisor I-CAN, Program Director Mongabay Indonesia Ridzki Sigit, KTH Hijau Lestari Muara Sekampung Lampung Ana Musta’anah, serta Anna Urbinas dari Sinar Hijau Ventures.

Melalui forum multipihak tersebut, penguatan kolaborasi lintas sektor diharapkan dapat memperkuat narasi bersama tentang Indonesia yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan keberlanjutan lingkungan, keadilan bagi masyarakat, serta peningkatan nilai ekonomi sumber daya alam berjalan secara beriringan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *