Syntek Dorong Otomasi Jaringan Distribusi Listrik Menuju Sistem Self-Healing

Avatar photo
banner 120x600

Suara Pembaharuan.net||JAKARTA – Perkembangan ekonomi, pertumbuhan pelanggan, serta meningkatnya kebutuhan listrik dari berbagai sektor strategis seperti pusat data, kawasan bisnis dan fasilitas komersial mendorong perlunya jaringan distribusi tenaga listrik yang semakin andal. Kondisi tersebut menjadi salah satu pembahasan penting dalam EPI–PJCI GridNext Symposium 2026 di JI-Expo Kemayoran Jakarta, Kamis (03/09/26).

Technical Director PT Syntek Otomasi Indonesia, Andreas Yonas, menjadi salah satu pembicara dalam panel discussion bertema “Distribution Automation & Self-Healing Networks”. Forum tersebut membahas perkembangan teknologi otomasi distribusi dan jaringan listrik cerdas (smart grid) sebagai bagian dari upaya meningkatkan keandalan serta efisiensi sistem kelistrikan.

EPI–PJCI GridNext Symposium 2026 diselenggarakan Perkumpulan Jaringan Cerdas Indonesia (PJCI) bekerja sama dengan Electric & Power Indonesia (EPI), serta didukung PT Pamerindo Indonesia. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pameran Indonesia Energy & Engineering (IEE) Series – Energy Week 2026.

Selain Andreas Yonas, forum tersebut menghadirkan Chief Technical Officer Asia Pacific PT Friendcom Tech Indonesia Julius Dethan serta Power & Grid Segmen Leader PT Schneider Indonesia Harman Santoso. Para pembicara membahas berbagai aspek transformasi jaringan listrik menuju sistem yang lebih adaptif terhadap perkembangan kebutuhan energi.

Dalam paparannya, Andreas menjelaskan salah satu solusi yang dikembangkan Syntek dalam bidang otomasi distribusi, yakni FISER (Fault Isolation and Service Restoration), yang memungkinkan jaringan mendeteksi gangguan, mengisolasi bagian yang terdampak dan memulihkan pasokan listrik ke wilayah yang tidak mengalami gangguan secara otomatis.

Menurut Andreas, teknologi tersebut penting di tengah meningkatnya konsumsi listrik nasional dan pertambahan pelanggan. Pertumbuhan beban listrik juga berarti semakin besar potensi dampak apabila terjadi gangguan, khususnya terhadap pelanggan dengan kebutuhan listrik kritis seperti data center dan pusat bisnis.

Ia menjelaskan, tingkat keandalan jaringan antara lain dapat dilihat melalui indikator SAIDI dan SAIFI. SAIDI menggambarkan rata-rata durasi gangguan yang dialami pelanggan, sedangkan SAIFI menunjukkan rata-rata frekuensi gangguan. Semakin rendah nilai kedua indikator tersebut, semakin baik tingkat keandalan pasokan listrik.

“Dengan adanya FISER, proses deteksi gangguan, isolasi segmen yang bermasalah dan pemulihan pasokan dapat dilakukan secara otomatis menggunakan algoritma yang telah disiapkan,” ujar Andreas dalam paparannya.

Ia mencontohkan, ketika terjadi gangguan pada salah satu bagian jaringan distribusi, sistem akan menerima informasi dari perangkat di lapangan, kemudian mengisolasi segmen yang terganggu. Selanjutnya sistem menghitung pembebanan yang dapat dialihkan dan memilih jalur dengan margin kapasitas yang paling sesuai sebelum melakukan pemulihan pasokan ke area yang tidak terdampak.

Dalam implementasinya, FISER dapat menggunakan arsitektur terpusat (centralized) maupun terdistribusi (distributed). Pada sistem terpusat, logika otomasi ditempatkan pada pusat kendali atau Distribution Control Center (DCC), sementara pada sistem terdistribusi, logika ditempatkan pada perangkat di lapangan yang saling berkomunikasi melalui teknologi komunikasi peer-to-peer.

Andreas juga menjelaskan bahwa penerapan FISER dapat dilakukan secara bertahap, mulai dari mode manual, semi-otomatis hingga full automatic. Pada tahap manual, sistem hanya mendeteksi gangguan dan operator melakukan manuver. Pada tahap semi-otomatis, sistem memberikan rekomendasi, sedangkan pada tahap full automatic, proses deteksi hingga pemulihan dilakukan secara otomatis oleh sistem.

Untuk mencapai tingkat otomasi tersebut, diperlukan sejumlah kesiapan, antara lain pemodelan jaringan distribusi, penyediaan fasilitas remote control pada perangkat lapangan, serta penambahan perangkat untuk mendeteksi gangguan dan melakukan manuver jaringan. Kualitas komunikasi dan kesiapan perangkat juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan implementasi.

Andreas turut membagikan pengalaman Syntek dalam mengimplementasikan teknologi otomasi distribusi di lingkungan PLN Distribusi Jakarta Raya dengan menggunakan topologi terdistribusi. Dalam salah satu pengujian simulasi gangguan pada 2022, sistem mampu memulihkan segmen jaringan yang tidak mengalami gangguan dalam waktu sekitar delapan detik.

Menurutnya, implementasi self-healing network merupakan proses bertahap yang perlu didukung kesiapan infrastruktur, pemodelan jaringan yang terus diperbarui, kualitas komunikasi serta integrasi perangkat di lapangan. Syntek sendiri sejak 2019 fokus pada implementasi teknologi distribution automation dan smart grid.

“Fondasi otomasi distribusi harus dibangun secara bertahap, mulai dari monitoring, remote control, semi-otomatis hingga full automation. Tujuannya mempercepat deteksi, isolasi dan pemulihan gangguan sehingga keandalan jaringan dapat terus ditingkatkan,” kata Andreas.

Melalui partisipasinya dalam EPI–PJCI GridNext Symposium 2026, Syntek menegaskan komitmennya dalam menghadirkan solusi teknologi untuk mendukung transformasi sistem kelistrikan Indonesia. Pengembangan otomasi distribusi dan self-healing network dinilai menjadi bagian penting dalam membangun jaringan listrik yang semakin cerdas, responsif dan mampu menjawab pertumbuhan kebutuhan energi di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *