JAKARTA — TNI Angkatan Udara (TNI AU) mendorong penguatan industri teknologi dalam negeri melalui kolaborasi lintas sektor atau pendekatan pentahelix. Perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat dinilai perlu direspons secara bersama-sama dengan melibatkan pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas, hingga para pelaku industri.
Hal tersebut disampaikan Asisten Teritorial Kepala Staf Angkatan Udara (Aster Kasau) Marsekal Muda TNI Palito Sitorus saat ditemui di sela-sela kegiatan Indo Machinery Investment and Trade Show 2026 – The Indonesia’s Platform for Machinery and Manufacturing Innovation dan Indonesia Technology & Innovation (INTI) 2026 di JI-Expo Kemayoran, Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Palito mengatakan, kehadirannya dalam rangkaian kegiatan tersebut antara lain untuk menyaksikan pembukaan Indonesian Drone Expo (IDEX). Menurutnya, perkembangan teknologi, khususnya teknologi drone dan berbagai inovasi pendukungnya, merupakan sebuah perkembangan yang harus disikapi secara serius dan kolaboratif.
“Kita ketahui bahwa perkembangan teknologi saat ini begitu cepat. Karena itu harus kita lakukan secara bersama-sama, yang kita kenal dengan pentahelix,” ujar Palito.
Menurutnya, kolaborasi tersebut penting karena pengembangan teknologi tidak dapat hanya mengandalkan satu pihak. Pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya perlu mengambil peran untuk menciptakan ekosistem inovasi yang kuat.
Palito mengapresiasi penyelenggaraan expo yang mempertemukan berbagai pelaku industri dan teknologi. Ia menilai, kehadiran produk-produk karya anak bangsa menjadi modal penting untuk mendorong pertumbuhan industri nasional, termasuk industri yang berkaitan dengan kebutuhan pertahanan.
“Begitu banyak produk anak bangsa yang mungkin ini bisa kita jadikan pemicu untuk membangkitkan industri dalam negeri. Walaupun dari luar negeri juga ada, artinya kita memberi semangat kepada industri dalam negeri supaya terus berkembang,” katanya.
Ia menegaskan, penguatan industri dalam negeri menjadi penting agar kemampuan nasional dalam menghasilkan teknologi strategis terus meningkat. Terlebih, perkembangan teknologi memiliki keterkaitan erat dengan kebutuhan pertahanan dan keamanan negara.
Namun demikian, Palito mengakui bahwa pengembangan dan adopsi teknologi membutuhkan kesiapan, termasuk kesiapan sumber daya manusia (SDM), pendanaan, serta ekosistem pendukung lainnya.
Dalam menghadapi perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan teknologi maju lainnya, ia menilai kesiapan SDM menjadi salah satu faktor paling penting.
“Teknologi itu tidak bisa berjalan sendiri tanpa ada sumber daya manusianya,” tegasnya.
Menurut Palito, Indonesia memiliki potensi SDM yang cukup baik. Karena itu, potensi tersebut perlu terus didorong melalui pemberian motivasi, kesempatan pengembangan, pendidikan, serta ruang inovasi agar talenta nasional mampu menjadi penggerak kemajuan teknologi.
“Kita perlu memberikan semangat dan motivasi kepada mereka bahwa anak bangsa kita cukup bagus sampai sekarang,” ujarnya.
Palito menambahkan, berbagai pameran teknologi seperti Indonesian Drone Expo dan rangkaian INTI 2026 menjadi ruang strategis untuk mempertemukan inovasi, industri, pemerintah, akademisi, dan pengguna teknologi. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mempercepat lahirnya produk teknologi nasional yang kompetitif sekaligus memperkuat kemandirian industri Indonesia.
Bagi TNI AU, perkembangan teknologi tersebut juga menjadi bagian penting dalam melihat peluang penguatan kemampuan pertahanan nasional, khususnya melalui pemanfaatan inovasi dan produk teknologi karya anak bangsa.












